Enter your keyword

Minggu, 09 Juli 2017

Puluhan Mahasiswa IPB dan Jepang Praktik Lapang di Tegal dan Bogor

By On 16.49
Sebanyak 26 orang mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) dan 21 mahasiswa asal Jepang yang tergabung dalam Six University Initiative Japan Indonesia (SUIJI) Service Learning Program  (SLP) melakukan pengabdian kepada masyarakat di Kabupaten Tegal dan Kabupaten Bogor. Sejumlah program mereka lakukan, mulai dari kegiatan sosial, ekonomi, pertanian dan kebudayaan. Hasil pengabdian masyarakat mahasiswa Jepang dan IPB ini dibahas di Ruang Sidang Rektor, Kampus IPB Darmaga, Jumat (11/3).

Direktur Kerjasama dan Program Internasional IPB, Dr. Edy Hartulistiyoso menyampaikan selamat kepada peserta yang telah selesai melaksanakan program pengabdian selama 12 hari. Sementara, perwakilan dari Jepang, Prof. Shigeyuki Tajima menyampaikan  terimakasih kepada IPB. “Untuk kedua kalinya kami bergabung dalam  program Suiji.  Program kolaborasi ini kami nilai semakin mapan dari berbagai aspek,” ujar Prof Shigeyuki.

Menurut Donopan, mahasiswa asal IPB yang terlibat dalam IPB Goes To Field (IGTF) Internasional atau SUIJI ini mengatakan, ia bersama dengan mahasiswa Jepang melakukan pengabdian kepada masyarakat di daerah Tegal tepatnya di Desa Tuwel.  Komoditi utama Desa Tuwel adalah bawang putih. “Disana kami belajar budaya setempat  dan memberikan edukasi terkait  penanganan sampah, pendidikan, dan kearifan lokal pedesaan,” ujarnya. (dh)

Tag: Edy Hartulistioso IPB, IPB Goes To Field, Suiji
Kontak : Dr. Edy Hartulistiyoso, No HP 081287159171

Sumber: IPB Magazine

Kembalikan Kejayaan Tuwel Sebagai Sentra Bawang Putih

By On 16.30
BOJONG - Kejayaan Tuwel Kabupaten Tegal sebagai lumbung bawang putih rupanya berangsur terangkat. Jumat (21/10), dilakukan panen salah satu komiditi andalan Indonesia itu.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah, Iskandar Simorangkir dalam sambutannya sesaat sebelum pemanenan mengatakan pada tahun 80-an, Desa Tuwel merupakan salah satu wilayah yang berjaya dalam memproduksi komoditas bawang putih. Sehingga dikenal sebagai salah satu sentra penghasil bawang putih di Jawa Tengah.

"Kejayaan ini meredup seiring dengan mulai masuknya bawang putih impor ke tanah air. Produksi bawang lokal tersaingi baik dalam harga maupun bentuk umbi," katanya.

Selain itu, petani enggan menanam, karena terus merugi, biaya produksi tinggi, dan belum lagi produktivitas yang terus menurun akibat lahan yang semakin tercemari pupuk kimia. Melihat kondisi tersebut pada 2015 pihaknya menginisiasi pembuatan demplot bawang putih seluas sekitar 3.000 meter persegi dengan varietas Tawangmangu Baru.

"Inisiasi ini merupakan langkah awal untuk mulai melakukan pengembangan komoditas bawang putih lokal, dengan peningkatan hasil produksi. Hasil panen demplot tersebut mencapai sekitar 22,5 ton per hektare," tuturnya.

Jumlah tersebut rupanya lebih banyak dibandingkan sejarah hasil panen petani Tuwel yang berkisar 8-10 ton per hektare. Keberhasilan demplot ini selain didukung adanya teknologi budidaya yang dikembangkan Pusat Kajian Holtikultura dan Tropikal (PKHT-IPB).

Selain itu juga adanya pendampingan yang intensif oleh Bank Indonesia Tegal, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dan UPTD Kecamatan Bojong, OISCA Karanganyar, BPTP Ungaran, dan BPSB Jawa Tengah.

Menurut Iskandar sejumlah kendala masih saja dialami sejumlah petani di antaranya kondisi cuaca yang ektrem. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi petani dalam upaya membudidayakan bawang putih.

"Akibat curah hujan yang tinggi, tanaman bawang putih terganggu jamur, petani harus ekstra memberikan perawatan tanaman. Bahkan beberapa harus di panen lebih awal dari usia tanam yang seharusnya untuk penyiapan kelayakan bibit, namun sudah layak konsumsi," sebutnya.

Menyikapi hasil pengembangan demplot bawang putih tahun 2016, pihak terkait sepakat untuk melakukan pengamanan bibit yang akan ditanam pada 2017. Diharapkan pada musim tanam mendatang, petani yang turut membudidayakan bawang putih lokal akan bertambah sehingga akan meningkatkan luas tanam dan produksinya.

Bupati Tegal Enthus Susmono berharap semua stake holder dapat memberikan dukungan kepada petani disini sehingga kejayaan Tuwel akan kembali. Revitalisasi kebangkitan yang sudah ada menjadi kebangkitan kita kembali sehingga kita akan kembali menemui kejayaan bawang putih di masa lalu. (muj/zul)

Sumber: Radar Tegal

Indahnya Curug Sigeong

By On 16.17
Kabupaten Tegal di Jawa Tengah, dengan sentralnya Kota Slawi, merupakan hamparan bukit dan hutan indah yang berhawa segar.

Destinasi wisata seperti Guci, Waduk Cacaban, Pantai Alam Indah (PAI), dan Pantai Pure In, sudah populer. Khususnya bagi masyarakat Tegal dan sekitarnya. Nah, pada 12 Oktober lalu, bersama teman-teman dari grup Facebook Sisi Lain Kabupaten Tegal (SLKT), saya mencoba berkunjung ke destinasi yang belum populer. Yakni ke sebuah curug yang menurut warga setempat memiliki keindahan luar biasa.

Curug Sigeong. Begitu sebutan masyarakat terhadap air terjun yang kabarnya sering dipakai untuk ritual lelakon alias meditasi. Di kawasan tersebut terdapat beberapa gua, antara lain Gua Babi dan Gua Pengantin. Tempatnya menyeramkan, demikian gambaran warga. Namun, cerita hanya cerita, rombongan kami justru antusias berkunjung ke sana.

Perjalanan darat dari Kota Slawi lumayan jauh, 35 kilometer ke arah kawasan wisata Guci. Jalan berkelok dan menanjak, sebaiknya persiapkan kendaraan sebelum berkunjung ke sana.

Lokasi Curug Sigeong tepat di bawah lokasi wisata Guci. Kalau ditempuh dari Desa Tuwel, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, sekitar 4 kilometer berjalan kaki melewati pinggiran irigasi pemerintah. Gratis. Sedangkan dari area kawasan wisata Guci sekitar 2 kilometer dengan jalan menurun. Untuk masuk kamu juga dikenakan tiket serta parkir kendaraan.

Di sekitar Desa Tuwel sampai kawasan wisata Guci banyak terdapat penginapan yang menyewakan kamar bagi wisatawan yang ingin bermalam. Tarif relatif terjangkau, berkisar Rp 100 ribu dan Rp 500 ribu tergantung tempat dan tipe kamar.

Setelah berjalan kaki, saya dan rombongan sampai juga di Curug Sigeong. Curug dengan ketinggian 15 sampai 20 meter tersebut tampak deras dan berair jernih. Dinding batu di sekitar air terjun berbentuk seperti kipas, luar biasa indah. Wow, jadi ingin cepat-cepat menceburkan diri dan berendam!

Dua jam berendam, bermain, dan tertawa di Curug Sigeong, serasa lepas semua penat di tubuh. Puas rasanya, kenangan yang tak terbayarkan dengan uang.

Nah, teman-teman, kalau singgah ke Tegal sempatkan juga berkunjung ke Curug Sigeong. Di sekitar lokasi, kamu bisa bertanya pada masyarakat dan minta diantar ke sana. Jangan tunda dan ragu, pemandangannya mengasikkan. Penasaran? Silakan dicoba.

Sumber: WEGO

Kamis, 06 Juli 2017

Aktivitas Gunung Slamet Kembali Tenang, Warga Bersyukur

By On 08.49
Solopos.com, BANYUMAS – Warga sekitar Gunung Slamet yang meliputi Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes, Jawa Tengah, bersyukur karena aktivitas gunung itu menurun sehingga kembali tenang.

“Dengan menurunnya aktivitas Gunung Slamet, masyarakat saat ini semakin tenang,” kata Kepala Dusun IV Wasirun, di Desa Limpakuwus, Kecamatan Sumbang, Banyumas, Selasa (16/9/2014).

Menurut dia, kondisi Gunung Slamet saat ini jauh berbeda dengan beberapa waktu sebelumnya terutama pada hari Rabu (10/9/2014) hingga Jumat (12/9/2014).

Saat itu, kata dia, aktivitas Gunung Slamet sangat tinggi sehingga terus-menerus mengeluarkan sinar api yang disertai lava pijar dan terdengar suara dentuman kuat.

Akan tetapi sekarang, lanjut dia, suara dentuman tidak lagi terdengar dan sinar api maupun lontaran lava pijar tidak terlihat.

“Tidak kelihatan, saya kemarin (Senin, red.) menunggu sampai malam, tapi tidak terlihat sinar api maupun mendengar suara dentuman. Mudahan-mudahan Gunung Slamet bener-bener anteng,” katanya seperti dikutip Antara.

Ia mengharapkan Gunung Slamet yang saat ini berstatus “Siaga” dapat segera turun menjadi “Waspada” dan selanjutnya kembali menjadi “Normal”.

Situasi yang sama juga dirasakan warga Dusun Gunungmalang, Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga.

“Alhamdulillah trauma warga Gunungmalang sudah hilang. Saat ini, warga sudah beraktivitas seperti biasa walaupun belum normal 100 persen,” kata Kepala Desa Serang Sugito.

Meskipun aktivitas Gunung Slamet cenderung menurun, dia mengatakan bahwa warga Dusun Gunungmalang tetap siap siaga untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.
Menurut dia, tidak menutup kemungkinan penurunan aktivitas Gunung Slamet itu hanya sesaat dan selanjutnya meningkat kembali.

Sumber: SoloPos

Guci & Tuwel Diguyur Abu Vulkanik Gunung Slamet

By On 08.39
Sindonews.com - Sejumlah desa di kaki Gunung Slamet diguyur hujan abu vulkanik. Terdiri dari Desa Guci, dan Desa Tuwel, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal. Desa itu berjarak sekitar tujuh hingga delapan kilometer dari puncak Gunung Slamet.

Berdasarkan pantauan langsung, abu terlihat menempel di pakaian dan kendaraan milik warga. Abu vulkanik mulai turun usai erupsi Gunung Slamet hari ini yang memuntahkan asap hingga setinggi 2.000 meter.

"Abu vulkanik terlihat turun sejak pukul 02.00 WIB dini hari. Meski tak terlalu tebal, abu terlihat jelas menempel di kaca rumah, pakaian, dan kendaraan milik warga," ujar Camat Bojong Muhtadi, kepada Sindonews, Rabu (19/3/2014).

Kendati begitu, dia mengaku, guyuran hujan abu vulkanik yang terjadi hari ini belum mengganggu aktivitas warga dalam bekerja, dan menjalankan rutinitas sekolah. "Belum sampai mengganggu aktivitas warga," tukasnya.

Sebelumnya diberitakan, hari ini Gunung Slamet menyemburkan asap setinggi 2.000 meter. Letusan itu menyemburkan material abu vulkanik berwarna hitam kelabu.

Berdasarkan pengamatan di Pos Pengamatan Gunung Api Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, letusan asap cukup kuat, terjadi sekira pukul 08.47 WIB.

"Satu kali letusan terpantau cukup kuat. Material abunya terbawa ke arah barat laut," kata petugas Pos Pengamatan Gambuhan Sukedi.

Sumber: SindoNews

Artikel

Ikuti Kami